Selasa, 10 November 2015

Konsep Evaluasi Program

Evaluasi program mempunyai makna yang berhubungan pada aplikasi skala nilai terhadap hasil kebijakan atau program. Gambaran sederhana evaluasi adalah proses pencapaian tujuan dari pelaksanaan program yang dijalankan. Dengan ini maka evaluasi berkenaan dengan pengambilan keputusan dan menekankan bagi pentingnya cara untuk mendapatkan informasi yang berkenaan dengan pencapaian tujuan dari suatu program. Pengumpulan data yang diperoleh melalui evaluasi dibuat untuk menambah efektifitas dari pelaksanaan program.
Paton menjelaskan evaluasi program adalah proses pengambilan data yang sistematis untuk melakukan penilaian dan keputusan terhadap suatu program[1]. Berdasarkan pendapat tersebut maka evaluasi program adalah sebuah proses, dimana proses harus sistematis dalam pengambilan datanya. Evaluasi digunakan untuk pengambilan keputusan atau peniaian. Jadi evaluasi program mempunyai tiga hal pokok yang pentting, yaitu pengambilan data, penilaian, dan pengambilan keputusan.
Hal penting dalam pengambilan data maksudnya bahwa evaluasi harus dilakukan secara sistematis dengan desain evaluasi[2]. Pengambilan data harus mempunyai perencanaan agar diperoleh data yang benar. Pengambilan data sistematis berarti bahea pengambilan data harus disesuaikan dengan tahapan-tahapan dan prosedur yang telah ditetapkan dalam proses perencanaan evaluasi. Hali ini akan memberikan gambaran yang benar mengenai pelaksanaan program. Setelah pengambilan data, kemudian dilanjutkan dengan penilaian.
Penilaian yang dilakukan berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh dan pemberian kriteria terhadap objek-objek[3]. Penilaian dapat dilakukan dengan cara membandingkan hasil pencapaian program dengan tujuan yang telah ditetapkan dalam perencanaan program. Hasil penilaian kemudian dijadikan sebagai dasar untuk menentukan keputusan-keputusan.
Pendapat lain yang memperkuat pendapat di atas adalah pendapat dari Stufflebeam yang menyatakah bahwa “Evaluation is a systematic investigation of the value of a program or other evaluand[4]. Stufflebeam menjelaskan bahwa evaluasi merupakan proses yang sistematis dari nilai sebuah program.
Stufflebeam dalam Muhammad Aziz Ariyanto menyatakan bahwa “evaluating is the process of delineating, and providing descriptive and judgemental information about the worth and merit of some object’s goal, design, implementation, and impact in order to guide decision making , serve needs for accountability, and promote understanding of the involved phenomena[5]. Pendapat tersebut berati bahwa evaluasi adalah suatu proses untuk mendapatkan informasi guna dijadikan pertimbangan untuk menentukan harga dan jasa (worth and merit) dari tujuan yang dicapai, desain, implementasi, dan dampak untk membantu membuat keputusan, membantu pertanggungjawaban dan meningkatkan pemahaman tentang fenomena. Secara sederhana evaluasi adalah penyediaan informasi yang dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk mngambil keputusan.
Upaya untuk melakukan kegiatan harus memperhatikan empat prinsip dasar. seperti yang disarankan oleh Daniel L. Stufflebeam yaitu utility, feasibility, propriety, dan accuracy[6]. Utility dimaksudkan agar evaluasi itu bersifat informatif, feasibility dimaksudkan agar desain evaluasi diatur sesuai dengan bidang yang akan dievaluasi dan dengan biaya yang efektif. propriety dimaksudkan agar evaluasi dilakukan secara legal dan menjunjung etika. Accuracy dimaksudkan agar evaluasi harus akurat dan valid, reliabel, dan merupakan informasi yang menyeluruh.
Berdasarkan beberapa pendapat dari pakar evaluasi program di atas, maka dapat diamil kesimpulan bahwa evaluasi merupakan proses pengambilan data yang dilakukan dengan sistematis atau betahap untuk melakukan penilaian atau pengambiilan keputusan terhadap suatu program dengan memperhatikan prinsip-prinsip evaluasi. Prinsip-prinsip evaluasi program adalah utilitas, kepatuhan, kelayakan, dan akurasi.



[1] Michael Quin Paton. Utilization Facused Evaluation. (Califirnia: Sage Publication, Inc., 2005), h. 23.
[2] Reider Dale dalam Muhammad Aziz Ariyanto. Evaluasi program Manajemen Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Mahasiswa (PPLM) di Jawa Tengah. Disertasi. (Jakarta: PPs. Universitas Negeri Jakarta, 2015), h. 18.
[3] Djaali dan Pudji Mujiono. Pengukuran dalam Bidang Pendidikan. (Jakarta: PT Gramedia, 2008), h. 1.
[4] Daniel L. Stufflebeam dalam Muhammad Aziz Ariyanto, op. cit., h.19.
[5] Ibid., h. 19.
[6] Daniel L. Stufflebeam. “Empowerment Evaluation, Objectivist Evaluation, and Evaluation Standards: Where the Future of Evaluation Should not Go and Where it Needs to Go”. American Journal of Evaluation, Vol 15 (3), Spring 1994, hh.321-338.

Rabu, 23 Juli 2014

Keterampilan Mengajar Guru Pendidikan Jasmani dan Olahraga

Photo by : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2sGWvdBkNaa4ZfL5bs1_cw2_mR2cs-4Myt9kOStGBieCCQVZMgO2mEjpstfE8lKgW6i6lLf146mj9xiECtc1ePVbx3BCpnzwzbJ9oDKWYUeqON4Zml9WKyOqi6-fdpmvT04MXx0csQLc/s1600/PIC_1394.JPG
Keterampilan mengajar merupakan hal yang fundamental harus dimiliki setiap guru. Tanpa keterampilan mengajar tentu guru tidak akan menciptakan kondisi yang memungkinkan untuk belajar bagi siswa dan tentu hasilnya akan sia-sia.

Menurut Suroto (2010) dalan Teaching Skill Suroto 2010-2, keterampilan-keterampilan mengajar yang harus dimiliki guru pendidikan jasmani dan olahraga adalah sebagai berikut:

1. Keterampilan menyiapkan pembelajaran
Keterampilan menyiapkan pembelajaran merupakan awal dari proses belajar mengajar guru. Keterampilan menyiapkan pembelajaran terdiri dari membuat perangkat pembelajaran, merefresh penguasaan materi, mengecek data kemampuan awal siswa, menyiapkan tempat, dan menyiapkan alat-alat pembelajaran.

2. Keterampilan membuka pelajaran
Keterampilan membuka pelajaran merupakan keterampilan untuk menarik perhatian siswa, menimbulkan motivasi, memberi acuan, membuat kaitan. Komponen dalam keterampilan ini adalah melakukan presensi, menyampaikan ruang lingkup materi, mengadakan apersepsi, menyampaikan tujuan psikomotor, menyampaikan tujuan kognitif dan afektif.

3. Keterampilan mengelola waktu dan arena pembelajaran
Komponen dalam keterampilan adalah menyampaikan waktu yang tersedia untuk pembelajaran, menyampaikan waktu yang tersedia untuk setiap tugas belajar, menyampaikan batas-batas arena pembelajaran, membuat tanda-tanda peningkatan level tugas, membuat tanda pembeda dari tugas gerak yang berbeda.

4. Keterampilan mengelola pemanasan dan pendinginan
Komponen dalam keterampilan ini adalah menyebut nama gerak/ formasi/ permainan, menyampaikan tujuan gerak/ formasi /permainan, cara melakukan/indikator kesempurnaan, mengaitkan dengan materi inti, mengecek hasil pemanasan/pendinginan.

5. Keterampilan menempatkan diri
Komponen dalam keterampilan ini adalah pada saat osisi perintah verbal menjamin semua siswa dengar, pada saat posisi demo memungkinkan semua peserta didik melihat dan mendengar penjelasan guru, pada saat posisi monitoring total dengan sudut pandang penuh, pada saat posisi memberi feedback individu, pada saat membuka pelajaran (lokasi + arah sinar matahari).

6. Keterampilan membuat perintah
Komponen dalam keterampilan ini adalah singkat, waktu mulai jelas dan waktu selesai jelas, isi jelas, pelaksana jelas, ada indikator kesempurnaan jelas.

7. Keterampilan memonitor perintah
Komponen dalam keterampilan ini adalah posisi monitoring (sudut pandang penuh/checklist), mencocokkan dengan indikator, mencatat deviasi/penyimpangan dari indikator, menginformasikan peran guru, memberi tanda bentuk feedback (koreksi atau apresiasi).

8. Keterampilan memberikan umpan balik
Komponen dalam keterampilan ini adalah singkat, spesifik/khusus, segera, menyeluruh, variatif.

9. Keterampilan mencatat kemajuan belajar siswa
Komponen dalam keterampilan ini adalah format siap,ada indikator kesempurnaan, indikator yang dinilai lengkap, indikator urut kronologis, konsistensi klasifikasi penilaian/Norma penilaian tetap.

10. Keterampilan bertanya
Komponen dalam keterampilan ini adalah terkait langsung dengan materi ajar, singkat, jelas, variatif, ada jawaban/ memungkinkan dijawab.

11. Keterampilan mengevaluasi diri
Komponen dalam keterampilan ini adalah ada catatan evaluasi persiapan, proses, produk/hasil,ada format Evaluasi diri, menyediakan waktu khusus.

12. Keterampilan menutup pelajaran
Komponen dalam keterampilan ini adalah menyimpulkan proses, hasil, memberikan apresiasi, menyampaikan rencana materi berikutnya dan persiapan yang diperlukan, menyampaikan tindak lanjut dalam kehidupan sehari-hari siswa.

Selasa, 21 Januari 2014

Paradigma, Pendekatan, dan Jenis Penelitian


Penelitian adalah upaya pemecahan masalah yang dilakukan dengan metode ilmiah. Jadi tidak akan ada penelitian tanpa adanya masalah. Banyak pakar penelitian mengatakan bahwa "Jika ingin melakukan penelitian, temukan masalah terlebih dahulu. Karena dengan masalah 50% penelitian tersebut telah selesai". Dari pernyataan tersebut dapat diartikan masalah merupakan awal dari penelitian dan hal vital untuk penelitian. Setelah ditemukan masalah, selanjutnya dengan metodologi penelitian, masalah tersebut akan mudah diselesaikan.

Penyelesaian masalah penelitian pada tahap awal ditentukan pradigma dari peneliti. Paradigma merupakan suatu cara pandang, cara memahami, cara menginterpretasi, suatu kerangka berfikir, dasar keyakinan yang memberikan arahan pada tindakan. Dalam penyelesaian masalah, peneliti diharuskan melihat dari sudut pandang yang mampu dilakukan oleh peneliti tersebut.


Paradigma penelitian ada 2 macam, yaitu paradigma positivistik (ilmu didasarkan pada hukum-hukum & prosedur-prosedur yang baku) dan paradigma interpretif (setiap gejala bisa jadi memiliki makna yang berbeda). Paradigma positivistik akan melahirkan pendekatan kuantitatif (data berupa angka atau data diangkakan), sedangkan paradigma interpretif akan melahirkan pendekatan kualitatif (data berupa kata-kata). Sebagai contoh, dalam penelitian tentang manajemen kesuksesan suatu perusahaan, peneliti bisa melihat dari sudut pandang interpretif, dimana data yang didapatkan berupa kata-kata tentang perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawassan di perusahaan tersebut. Apabila peneliti melihat dari sudut pandang positvistik, maka peneliti akan mendapatkan data dengan mengambil nilai berupa angka (mengkuantitatifkan data) dari data tentang perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawassan di perusahaan tersebut.

Dari paradigma penelitian tersebut akan melahirkan pendekatan penelitian dimana pendekatan tersebut dibagi 2, yaitu pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif terbagi menjadi 2 jenis penelitian yaitu penelitian eksperimen dan penelitian non-eksperimen. Penelitian eksperimen merupakan penelitian yang dilakukan secara ketat untuk mengetahui hubungan sebab akibat antar variabel dimana peneliti akan memberikan treatment (perlakuan). Sedangkan penelitian non-eksperimen adalah penelitian dimana peneliti tidak mempunyai kesempatan untuk memberikan perlakuan (treatment).


Dalam penelitian eksperimen, ada banyak jenis penelitian, diantaranya adalah penelitian eksperimen murni, penelitian eksperimen semu, dan penelitian tindak kaji (action research). Peneltian eksperimen murni adalah penelitian yang dicirikan 4 hal, yaitu adanya perlakuan, adanya kelompok kontrol, adanya ukuran keberhasilan, dan random sampling (pengambilan sampel secara acak). Penelitian eksperimen semu merupakan penelitian eksperimen yang tidak dapat memenuhi keempat ciri (di eksperimen murni), dengan kata lain salah satu ciri yang ada di penelitian eksperimen murni tidak dapat dilakukan. Penelitian tindak kaji (action research) adalah penelitian yang proses penelitiannya bersiklus dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran di kelas secara berkelanjutan. Yang dimaksud bersiklus adalah penelitian tidak akan berhenti sampai terjadi perbaikan kualitas (tujuan penelitian tercapai).


Penelitian non-eksperimen merupakan penelitian yang dalam proses penelitiannya tidak ada perlakuan. Penelitian non-eksperimen terbagi menjadi banyak jenis penelitian, akan tetapi yang paling sering dilakukan adalah jenis penelitian deskriptif, jenis penelitian survei, jenis penelitian korelasi, dan jenis penelitian komparasi. Jenis penelitian deskripsi adalah penelitian yang dilakukan untuk menggambarkan gejala, fenomena atau peristiwa. Jenis penelitian survei adalah penelitian yang mengambil sampel dari populasi dengan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data. Jenis penelitian korelasi adalah penelitian yang menghubungkan satu/lebih variabel bebas dengan satu variabel terikat tanpa ada upaya untuk mempengaruhi. Dan jenis penelitian komparasi adalah penelitian yang membandingkan satu kelompok sampel dengan kelompok sampel lainnya berdasarkan variabel/ukuran tertentu.

Dalam pendekatan kualitatif, jenis penelitian yang sering dilakukan adalah penelitian kualitatif, dimana penelitian ini dilakukan untuk memahami suatu fenomena secara mendalam dengan peneliti sebagai instrumen utama. Metode pengumpulan data dengan menggunakan pengamatan (observasi) dan wawancara. Penelitian kualitatif menuntut peneliti sebagai instrumen utama penelitian, hal ini bermakna bahwa peneliti harus cerdas dalam menafsirkan, mengartikan, memaknai dan menginterpretasikan data yang didapatkan menjadi sebuah jawaban penelitian (penyelesaian masalah).

Senin, 16 Desember 2013

Hakekat Lari Cepat Jarak Pendek


Lari cepat jarak pendek yang lazim disebut sprint merupakan kelompok nomor lari dengan jarak tempuh sangat dekat. Tujuan utama dari sprint adalah mencapai kecepatan lari secara maksimal dan mempertahankan kecepatan lari tersebut selama mungkin sampai melewati garis akhir dalam waktu yang paling singkat. Nomor sprint diklasifikasikan dalam jarak 100 meter, 100 meter gawang, 110 meter gawang, 200 meter, 400 meter, 400 meter gawang, estafet 4 x 100 meter, dan estafet 4 x 400 meter. 

Jarak sprint ini diklasifikasikan lagi oleh Ballesteros (1993) menjadi sprint pendek (100 m, 200 m, 100 mgw, 110 mgw) dan sprint panjang (400 m dan 400 mgw). Klasifikasi yang dikemukakan oleh Ballesteros hanya didasarkan pada aktivitas murni yang dilakukan seorang atlet ketika meraih prestasi dalam suatu perlombaan tanpa ada bantuan dari orang lain (temannya) misalnya pada estafet 4 x 100 m dan estafet 4 x 400 m. Kemenangan yang diperoleh dari kedua nomor di atas tidak ditentukan oleh satu orang saja tetapi ditentukan oleh kerja sama dari keempat pelari yang terpilih sehingga jarak 4 x 100 m, 4 x 400 m tidak dimasukan dalam klasifikasi jarak tersebut, akan tetapi kedua jarak ini merupakan bagian dari nomor sprint yang dimasukan dalam acara perlombaan resmi International Athletic Amateur Federation (IAAF). 

Mengacu pada tujuannya, kecepatan merupakan sifat biomotor bagi atlet sprint yang dimaksudkan sebagai suatu kemampuan untuk melakukan gerakan khusus dalam waktu yang paling singkat. Sprint juga merupakan keterampilan gerak yang didapat melalui pemahaman atau aturan-aturan pada prinsip belajar gerak (motor-learning). Menurut pemikiran tradisional, sprinter itu dilahirkan dan bukan dihasilkan. Hal ini menjadi benar ketika mengacu pada ungkapan bahwa tidak mungkin ada pelari kelas dunia tanpa dukungan genetik. Di pihak lain, seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan hasil-hasil penelitian menyebabkan batasan ini tidak banyak dipakai karena memang pemahamannya terlalu sempit. 

Seperti telah dinyatakan, bahwa seorang atlet bukan dilahirkan tetapi dihasilkan. Kata dihasilkan mengandung arti, atlet itu dibentuk melalui suatu proses pelatihan yang terencana dalam suatu perencanaan program pelatihan secara sistematis, berkesinambungan dan berlandaskan IPTEK kepelatihan olahraga prestasi khusus pada nomor tersebut. Banyak ilmu kepelatihan olahraga prestasi khusus nomor sprint, yang harus dipahami sebelum melaksanakan tugas melatih. Dukungan ilmu pengetahuan yang dimaksud antara lain adalah biomekanika, anatomi, fisiologi, biomotorik, tes dan pengukuran, psikologi, pengetahuan proses melatih dan pengetahuan tentang penyusunan program pelatihan. Dukungan ilmu yang terkait dengan mekanik sprint adalah biomekanika.

Dukungan biomekanika terkait dengan penampilan seorang sprinter dapat dikaji dari jalur pergerakan, mekanik sprint dan faktor pendukung pergerakan. Dari arah gerak atau jalur pergerakan, lari termasuk dalam gerak linier. Dikatakan demikian karena arah pergerakan yang dilakukan berada pada satu jalur dengan tidak mengubah arah gerakannya ketika bergerak dari garis awal sampai melewati garis akhir. Lukman (2003) menjelaskan bahwa tubuh mengalami gerak linier berkenaan dengan gerak rotasi dari beberapa ruasnya. Misalnya, pada cabang olahraga renang, jalan dan lari. Secara teori, yang membuat seseorang dapat berlari adalah adanya gerak sudut pada lengan dan tungkai secara kontinyu tanpa mengubah arah gerak tubuh dan didukung oleh komponen biomotor ability yang dominan. Gambetta (1991) menjelaskan pertimbangan biomekanik dalam sprint terdiri atas phase of the race (start, acceleration, maximum speed, speed endurance), sprint mechanics (posture, arm action, leg action), stride length and stride frequency. Dukungan biomekanik di atas menegaskan bahwa fase-fase perlombaan lari terdiri atas fase start, fase akselerasi, fase kecepatan maksimal dan fase mempertahankan kecepatan sampai melewati garis akhir. Sedangkan mekanik lari meliputi posisi tubuh saat berlari, aksi dari lengan dan tungkai yang meliputi kecepatan gerak ayun, ketinggian gerak ayun dan sudut yang dibentuk, yang diaktualisasikan dalam stride frequensy dan stride length. 

Fase start merupakan fase awal dalam perlombaan lari. Tujuan dari start dalam sprint tidak hanya memenangkan start sebagaimana anggapan para atlet, tetapi tujuan pada fase start adalah mencapai kepesatan gerak dan mendapatkan posisi tubuh yang seimbang dalam koordinasi antara gerak ayun lengan dan tungkai untuk akselerasi secepat mungkin melalui efisiensi distribusi tenaga saat fase start, termasuk reaksi terhadap tembakan dan keluar dari start block. Struktur dari fase start jongkok terbagi atas empat bagian yaitu posisi di start block, posisi siap, posisi keluar dari start block, dan posisi gerakan awal aksi berlari.

Rabu, 11 Desember 2013

Hakekat Pelatih


Sugiharto (2008:1) menyimpulkan “kepelatihan olahraga adalah pengulangan beberapa gerakan tertentu secara teratur dan sistematis, berirama, dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan tubuh”. Suharno (1992:3) menyebutkan pengertian melatih adalah aktivitas pelatih menyiapkan dan menciptakan situasi lingkungan latihan sebaik mungkin dan menghubungkannya dengan anak latih sehingga terjadi proses berlatih secara efektif dan efisien untuk mencapai sasaran latihan pada saat itu. 

Seorang pelatih adalah salah satu sumber daya manusia dalam keolahragaan yang berperan sangat penting dalam pencapaian prestasi atlet yang dilatihnya (Budiwanto, 2004:6). Maka seorang pelatih hendaknya selalu berusaha untuk menjadi profesional dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan dengan dan cabang olahraga yang dilatihkan. Seorang pelatih hendaknya memiliki keterampilan sesuai dengan cabang olahraga yang dilatihnya. Pengalaman sebagai pemain akan memberikan nilai tambah tersendiri dalam perannya sebagai pelatih yang memerlukan keterampilan. Misalnya dalam melatih passing dan dribling, maka pelatih harus memberikan contoh gerakan yang baik dari posisi badan hingga kaki, sehingga atletnya tidak mengalami kebingungan dan dapat dengan mudah menirukan gerakan yang diperagakan. Apabila pelatih tidak menguasai keterampilan yang dilatihkan, maka akan terjadi perbedaan persepsi dari masing-masing atlet, sehingga keterampilan yang diharapkan dikuasai atlet tidak dapat tercapai. 

Martens (2004: 1-365) menyebutkan bahwa “ becoming a succesfull coach is principles of teaching, principles of behavior, principles of teaching, principles of physical training and principles of management”. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk menjadi pelatih yang sukses harus memiliki 6 prinsip, diantaranya prinsip dalam melatih, prinsip perlakuan, prinsip pengajaran, prinsip latihan fisik dan prinsip managemen. Prinsip melatih terdiri dari mengembangkan filosofi melatih, menentukan obyek yang dilatih, memilih gaya melatih, melatih karakter dan melatih berbagai atlet. Kemudian dalam prinsip perlakuan terdiri dari berkomunikasi dengan atlet, memotivasi atlet dan mengatur perilaku atlet. Prinsip pengajaran terdiri dari cara melatih mendekati permainan, pokok latihan, melatih energi tubuh, melatih kekuatan tubuh, kemampuan atlet dan memerangi obat-obatan. Sedangkan prinsip managemen terdiri dari mengatur sebuah tim, mengatur hubungan relasi dan mengatur resiko yang diperoleh. 

Pelatih adalah tokoh sentral dalam proses latihan. Tokoh sentral tersebut harus memiliki ciri-ciri yang ideal antara lain, kepribadian, kemampuan fisik, keterampilan, kesegaran jasmani, pengetahuan dan pola pikir ilmiah, pengalaman, human relation dan kerjasama, dan kreatifitas (Budiwanto, 2004:5). Menjadi seorang pelatih harus memiliki ciri-ciri tersebut karena hal itu sangat mempengaruhi kualitas latihan yang dilakukan serta dalam menyusun jadwal latihan yang akan dilakukan sesuai dengan sistematika dalam latihan. Seorang pelatih harus selalu tampil prima baik secara fisik maupun mental. Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap kondisi kejiwaan para atletnya baik pada saat latihan ataupun dalam menghadapi tekanan suatu perandingan. Pelatih yang memiliki kesegaran jasmani yang baik akan mampu memimpin dan menjalankan program latihan yang sudah disusun dan mampu memberikan gerakan keterampilan yang dilatihkan kepada atletnya. 

Selain beberapa hal tersebut, pelatih juga harus memiliki keterampilan berkomunikasi yang baik sesuai dengan pendapat Martens (2004: 96) “succesfull coaches are masterful communications and unsuccesfull coaches often fail not because they lack knowledge of the sport but because off poor komunications skills”. Pendapat tersebut berarti kesuksesan pelatih adalah kemahiran berkomunikasi dan ketidaksuksesan pelatih bukan sering terjadi karena mereka kurang mengetahui olahraganya, tetapi karena keahlian berkomunikasi yang buruk. Jadi keahlian berkomunikasi harus dimiliki oleh pelatih agar mampu melakukan sesuatu hal sesuai dengan tujuannya. 

Kesehatan mental merupakan salah satu aspek kejiwaan yang mutlak dimiliki seorang pelatih. Dalam melakukan latihan, banyak sekali gangguan dan masalah yang harus dihadapi pelatih, baik masalah internal, eksternal maupun masalah alam. Pelatih harus mampu menghadapi masalah tersebut dengan mempertimbangkan segala sesuatunya dengan analisa yang cepat dan tepat. Pelatih juga harus mempertimbangkan kondisi atletnya saat ada gangguan. Segala sesuatu yang berkaitan dengan atlet yang melakukan olahraga (pertandingan/perlombaan) selalu mempengaruhi dan membangkitkan emosi-emosi, impulse-impulse dari atlet tersebut (Yohanes, 1991:19). Kemampuan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam melatih tidak terlepas dari tingkat kecerdasan pelatih sendiri. Tingkat kecerdasan tersebut menunjuk pada Intelegence Quotient (IQ). Makin tinggi IQ pelatih, maka makin cepat dan maksimal dalam menganalisa dan menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam pelatihan. 

Seorang pelatih juga harus memiliki kreatifitas dan daya imajinasi yang kuat, sehingga kualitas latihan dapat terus berkembang dan meningkat sesuai dengan harapan pelatih. Pelatih tidak hanya boleh puas dengan apa yang ia berikan dari hasil meniru dari kegiatan latihan yang didapatnya dari pelatih lain. Inovasi dan kreasi dalam menciptakan atau memodifikasi kegiatan latihan dapat meingkatkan prestasi dan keterampilan atletnya secara maksimal. 

Harus disadari bahwa dalam melatih atlet dewasa dengan anak usia dini sangatlah berbeda, jadi pelatih harus memperhatikan kemampuan dan usia atletnya. Pelatih juga harus mencintai pekerjaan dan kegiatannya sebagai pelatih dan tidak hanya berpedoman pada materi saja, karena hal tersebut sangat mempengaruhi tingkat kepuasan diri. Apabila pelatih hanya memperhatikan materi saja, maka kemungkinan perkembangan atlet kurang diperhatikan. Menjadi seorang pelatih tidak boleh cepat merasa puas dengan hasil yang sudah dicapai, sehingga harus terus meningkatkan prestasi atletnya dengan selalu melakukan regenerasi dan peningkatan keterampilan yang baik. 

Martens (2004: 71) menyebutkan bahwa “early adolescence (11 to 14 years), many believe that when adolescents go through the growth spurt they experience awkwardness (lack of agility, balance and coordination) until they have a chance to accommodate these changes”. Hal tersebut berarti sebelum masa muda (11 sampai 14 tahun), banyak yang percaya bahwa ketika remaja kekuatan pertumbuhan pengalaman mereka masih kacau (seperti kelincahan, keseimbangan dan koordinasi) sampai mereka mempunyai sebuah pilihan untuk mencukupi perubahan mereka. Jadi pada masa remaja kecenderungan pertumbuhan akan lemah apabila tidak ada tindakan untuk mengubahnya. Peran pelatih sangat berguna untuk mengubah pertumbuhan tersebut ke arah yang positif. 

Berdasarkan beberapa pengertian di depan, maka dapat disimpulkan bahwa pelatih adalah seseorang yang melakukan pelatihan terhadap orang atau sekelompok orang untuk beberapa gerakan yang sistematis, berirama dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan tubuh yang dilakukan secara berulang-ulang.

Senin, 25 November 2013

Pengertian Disiplin Belajar


Sebutan orang yang memiliki disiplin tinggi biasanya tertuju kepada orang yang selalu hadir tepat waktu, taat terhadap aturan, berperilaku sesuai dengan norma-norma yang berlaku, dan sejenisnya. Sebaliknya, sebutan orang yang kurang disiplin biasanya ditujukan kepada orang yang kurang atau tidak dapat mentaati peraturan dan ketentuan berlaku, baik yang bersumber dari masyarakat (konvensi-informal), pemerintah atau peraturan yang ditetapkan oleh suatu lembaga tertentu (organisasional-formal).

Prijodarminto (1994) dalam Tu’u (2004:31) disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan berbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan keterikatan. Menurut Maman Rachman (1999) dalam Tu’u (2004:32) menyatakan disiplin sebagai upaya mengendalikan diri dan sikap mental individu atau masyarakat dalam mengembangkan kepatuhan dan ketaatan terhadap peraturan dan tata tertib berdasarkan dorongan dan kesadaran yang muncul dari dalam hatinya. Gordon (1996:3-4) membedakan kata disiplin dengan mendisiplin. Disiplin biasanya diartikan sebagai perilaku dan tata tertib yang sesuai dengan peraturan dan ketetapan, atau perilaku yang diperoleh dari pelatihan, seperti disiplin dalam kelas atau disiplin dalam tim bola basket yang baik. Sedangkan kata mendisiplin didefinisikan sebagai menciptakan keadaan tertib dan patuh dengan pelatihan dan pengawasan dan menghukum atau mengenakan denda, membetulkan, menghukum demi kebiasaan.

Esensi disiplin siswa di Indonesia harus dikembalikan sebagai sebuah tanggung jawab yang diemban siswa terhadap tugas yang harus diselesaikan, dan harus dijauhkan dari segala bentuk kekerasan fisik. Hukuman fisik tidak menjadi masalah jika memang tujuannya melatih kedisiplinan dan tanggung jawab terhadap tugas. Ini berbeda dengan tindak kekerasan dengan dalih mendidik tetapi merugikan fisik siswa. Gambaran guru yang menerapkan disiplin tinggi dan salah kaprah di sekoah pada umumnya sudah identik dengan penggaris panjang sebagai alat pukul, memelintir telinga siswa,menghukum siswa untuk berdiri dengan satu kaki. Image yang sudah keropos ini terus berlangsung sejak lama dan sampai sekarangpun masih terus terjadi di sekolah-sekolah daerah bahkan juga di sekolah yang terletak di perkotaan. Ini merupakan sebuah sinyal dimana pendidikan 10 tahun kedepan akan semakin suram bila mendapati para pendidiknya lebih mengedepankan pendidikan kekerasan untuk membentuk pribadi siswa yang disiplin.

Memperhatikan pendapat Reisman dan Payne dalam Mulyasa (2004:21) dapat dikemukakan Sembilan strategi untuk mendisiplinkan peserta didik, sebagai berikut.
  1. Konsep diri atau self-concept, strategi ini menekankan bahwa konsep diri masing-masing individu merupakan faktor penting dari setiap perilaku. Untuk menumbuhkan konsep diri, guru disarankan bersikap empatik, menerima, hangat, dan terbuka, sehingga peserta didik dapat mengeksporasikan pikiran dan perasaannya dalam memecahkan masalah.
  2. Keterampilan berkomunikasi atau communication skill, guru harus memiiki keterampilan daam berkomunikasi yang efektif agar mampu menerima semua perasaan, dan mendorong timbulnya kepatuhan peserta didik.
  3. Konsekuensi logis dan alami atau natural and logical consequence, Perilaku yang salah terjadi karena peserta didik telah mengembangkan kepercayaan yang salah terhadap dirinya. Untuk itu guru disarankan menunjukkan secara tepat tujuan perilaku yang salah, sehingga membantu peserta didik daam mengatasi perilakunya, dan memanfaatkan akibat-akibat logis dan alami dari perilaku yang salah.
  4. Klarifikasi nilai atau values clarification, strategi ini dilakukan untuk membantu peserta didik dalam menjawab pertanyaannya sendiri tentang nilai-nilai dan membentuk system nilainya sendiri.
  5. Analisis transaksional atau transactional analysis, disarankan agar guru belajara sebagai orang dewasa, terutama apabila berhadapan dengan peserta didik yang menghadapi masalah.
  6. Terapi realistis atau reality therapy, sekolah harus berupaya mengurangi kegagalan dan meningkatkan keterlibatan. Dalam hal ini guru harus bersikap positif dan bertanggung jawab.
  7. Disipin yang terintegrasi atau assertive discipline, metode ini menekankan pengendalian penuh oleh guru untuk mengembangkan dan mempertahankan peraturan. Prinsip-prinsip modifikasi perilaku yang sistematik diimplementasikan di kelas, termasuk pemanfaatan papan tulis untuk menuliskan nama-nama peserta didik yang berperilaku menyimpang.
  8. Modifikasi perilaku atau behavior modification, perilaku salah yang disebabkan oleh lingkungan, sebagai tindakan remidiasi. Sehubungan dengan ha tersebut, dalam pembelajaran perlu diciptakan lingkungan yang kondusif.
  9. Tantangan bagi disiplin atau dare to discipline, guru diharapkan cekatan, sangat terorganisasi, dan dalam pengendalian yang tegas. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa peserta didik akan menghadapi berbagai keterbatasan pada hari-hari pertama di sekolah, dan guru perlu membiarkan mereka mengetahui siapa yang berada dalam posisi sebagai pemimpin
Seorang siswa dalam mengikuti kegiatan belajar di sekolah tidak akan lepas dari berbagai peraturan dan tata tertib yang diberlakukan di sekolahnya, dan setiap siswa dituntut untuk dapat berperilaku sesuai dengan aturan dan tata tertib yang yang berlaku di sekolahnya. Kepatuhan dan ketaatan siswa terhadap berbagai aturan dan tata tertib yang yang berlaku di sekolahnya itu biasa disebut disiplin siswa. 

Untuk mendisiplinkan peserta didik dengan sembilan strategi tersebut, harus mempertimbangkan berbagai situasi, dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhinya. Menurut Mulyasa (2004:24), disarankan kepada guru untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:
  1. Mempelajari pengalaman peserta didik melalui kartu catatan kumulatif.
  2. Mempelajari nama-nama peseta didik secara langsung, misalnya melalui daftar hadir dikelas.
  3. Mempertimbangkan lingkungan pembelajaran dan lingkungan peserta didik.
  4. Memberikan tugas yang jelas, dapat dipahami, sederahana, dan tidak bertele-tele.
  5. Menyiapkan kegiatan sehari-hari agar apa yang diakukan dalam pembelajaran sesuai dengan apa yang direncanakan, sehingga tidak terjadi penyimpangan.
  6. Bergairah dan semangat dalam pembelajaran, dijadikan teladan peserta didik.
  7. Berbuat sesuatu yang berbeda dan bervariasi, tidak monoton, sehingga membantu disiplin dan gairah belajar peserta didik.
  8. Menyesuaikan argumentasi dengan kemampuan peserta didik, jangan memaksa peserta didik sesuai pemahaman guru, atau mengukur peserta didik dari kemampuan gurunya.
  9. Membuat peraturan yang jelas dan tegas agar bisa diaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh peserta didik dan lingkungannya.

Senin, 19 Agustus 2013

Faktor Psikologi Belajar


Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu secara sadar untuk memperoleh perubahan perilaku seperti dalam pengetahuan, kebiasaan, keterampilan, sikap, persepsi kebiasaan dan tingkah laku afektif lainnya sebagai hasil dalam pengalaman. Belajar dipengaruhi oleh foktor psikologis. Sekurang-kurangnya ada tujuh faktor yang tergolong kedalam faktor psikologis yang mempengaruhi belajar. Faktor-faktor itu adalah: inteligensi, perhatian, minat, bakat, motivasi, kematangan dan kelelahan.

1) Inteligensi
Inteligensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar. Dalam situasi yang sama, siswa yang mempunyai tingkat inteligensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai tingkat inteligensi yang rendah. Walaupun begitu siswa yang mempunyai tingkat inteligensi yang tinggi belum pasti berhasil dalam belajarnya. Hal ini disebabkan karena belajar adalah suatu proses yang kompleks dengan banyak faktor yang mempengaruhinya, sedangkan inteligensi adalah salah satu faktor diantara faktor yang lain. Jika faktor lain itu bersifat menghambat/berpengaruh negatif terhadap belajar, akhirnya siswa gagal dalam belajarnya. Siswa yang mempunyai tingkat inteligensi yang normal dapat berhasil dengan baik dalam belajarnya, jika ia belajar dengan baik, artinya belajar dengan menerapkan metode belajar yang efisien dan faktor-faktor yang mempengaruhi belajarnya (faktor jasmaniah, psikologi, keluarga, sekolah, masyarakat) memberi pengaruh yang positif. Jika siswa memiliki inteligensi yang rendah, ia perlu mendapat pendidikan di lembaga pendidikan khusus.

2) Perhatian
Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika bahan pelajarannya tidak menjadi perhatian siswa, maka timbullah kebosanan, sehimgga ia tidak lagi suka belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik, usahakanlah bahan pelajaran selalu menarik perhatian dengan cara mengusahakan pelajarannya itu sesuai dengan hobi atau bakatnya.

3) Minat
Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya. Ia segan-segan untuk belajar, ia tidak memperoleh kepuasan dari pelajarannya itu. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa, lebih mudah dipelajari dan disimpan, karena minat menambah kegiatan belajar.
Jika terdapat siswa yang kurang berminat terhadap belajar, dapatlah diusahakan agar ia mempunyai minat yang lebih besar dengan cara menjelaskan hal-hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan serta hal-hal yang berhubungan dengan cita-cita serta kaitannya dengan bahan pelajaran yang dipelajari itu.

4) Bakat
Jika bahan pelajaran yang dipelajari siswa sesuai dengan bakatnya, maka hasil belajarnya lebih baik karena ia senang belajar dan pastilah selanjutnya ia lebih giat lagi dalam belajarnya itu. Adalah penting untuk mengetahui bakat siswa dan menempatkan siswa belajar di sekolah yang sesuai dengan bakatnya.

5) Motivasi
Dalam proses belajar haruslah diperhatikan apa yang dapat mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik atau padanya mempunyai motivasi untuk berpikir dan memusatkan perhatian, merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang berhubungan/ menunjang belajar. Menurut Syah (2006: 151), motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: 1) motivasi intrinsik dan 2) motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Termasuk dalam motivasi intrinsik siswa adalah perasaan menyenangi materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut, misalnya untuk kehidupan masa depan siswa yang bersangkutan.
Adapun motivasi ekstinsik adalah hal dan keadaan yang datang dari luar individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Pujian dan hadiah, peraturan/tata tertib sekolah, suri teladan orang tua, guru, dan seterusnya merupakan contoh-contoh konkret motivasi ekstrinsik yang dapat menolong siswa untuk belajar. Kekurangan atau ketiadaan motivasi baik yang bersifat internal maupun yang bersifat eksternal, akan menyebabkan kurang bersemangatnya siswa dalam melakukan proses mempelajari materi- materi pelajaran baik di sekolah maupun di rumah.

6) Kematangan
Kematangan adalah suatu tingkat/fase dalam pertumbuhan seseorang, di mana alat-alat dan tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Kematangan belum berarti anak dapat melaksanakan kegiatan secara terus-menerus, untuk itu diperlukan latihan-latihan dan pelajaran. Dengan kata lain anak yang sudah siap (matang) belum dapat melaksanakan kecakapannya sebelum belajar. Belajarnya akan lebih berhasil jika anak sudah siap (matang). Jadi kemajuan baru untuk memiliki kecakapan itu tergantung dari kematangan dan belajar.

7) Kesiapan
Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi response atau bereaksi. Kesediaan itu timbul dari dalam diri seseorang dan juga berhubungan dengan kematangan, karena kematangan berarti kesiapan untuk melaksanakan kecakapan. Kesiapan ini perlu diperhatikan dalam proses belajar, karena jika siswa belajar dan padanya sudah ada kesiapan, maka hasil belajarnya akan lebih baik.

Minggu, 18 Agustus 2013

Permainan Sepakbola



Sepakbola adalah olahraga yang dimainkan oleh dua regu yang masing-masing regu beranggotakan 11 (sebelas) orang pemain dan salah satunya adalah seorang penjaga gawang. Masing-masing tim mempertahankan sebuah gawang dan mencoba memasukkan bola ke gawang lawan (Sarumpaet, 1992: 5). Sepak bola merupakan permainan yang memakan waktu selama 2 x 45 menit. Selama waktu satu setengah jam itu, pemain dituntut untuk seanantiasa bergerak dan bukan hanya sekedar bergerak, namun dalam bergerak tersebut masih melakukan berbagai gerak fisik lainnya seperti berlari sambil menggiring bola, berlari kemudian harus berhenti tiba–tiba, berlari sambil berbelok 90 derajat, bahkan terkadang 180 derajat. Melompat, meluncur, beradu badan, bahkan terkadang berlanggar dengan pemain lawan dalam kecepatan yang tinggi.

Permainan sepakbola sendiri merupakan cabang olahraga yang menuntut banyak kreatifitas tehnik serta menuntut keberanian berbuat dan kepercayaan diri seorang pemain. Dalam hal ini penguasaan tehnik dasar serta kemampuan menerapkannya dalam permainan yang lebih diutamakan. Semakin sempurna tehnik dasar seorang, maka dia semakin dapat mengatasi persoalan yang terjadi di lapangan, seperti menghindari serangan lawan. Lebih penting lagi pemain dapat mengangkat kwalitas tim (Syafi’i, 1996: 23).

Sepakbola merupakan cabang olahraga yang bersifat permainan yang menuntut penguasaan beberapa unsur penunjangnya. Unsur-unsur tersebut adalah unsur teknik, fisik, taktik dan mental yang baik. Tentang pentingnya unsur tersebut, Luxbacher (1997: 1) mengemukakan bahwa gerakan pemain yang lancar dan terkontrol mengekspresikan individualitasnya dalam permainan beregu. Kecepatan, kekuatan, stamina, keterampilan dan pengetahuan mengenai taktik, semuanya merupakan aspek yang penting dari penampilan. Berbagai tantangan yang dihadapi oleh pemain mungkin menjadi daya tarik utama dalam permainan ini. 

Untuk menghasilkan seni bermain sepakbola yang tinggi (Perfect Football) pemain dituntut untuk menguasai keterampilan dalam bermain sepakbola yang pada dasarnya dapat dibagi atas :
1. Teknik tanpa bola yaitu keterampilan melakukan gerakan-gerakan tanpa bola baik dalam bentuk lari, lompat, gerak tipu dan lain sebagainya dengan tujuan untuk membuka pertahanan lawan atau memberi kesempatan teman satu tim melakukan aksi perorangan dalam upaya mencetak gol.
2. Teknik dengan bola yaitu keterampilan melakukan aksi dengan bola, misalnya : menendang, menghentikan, menggiring, menyundul bola, menipu lawan atau merampas bola dari kaki lawan yang kesemuanya dilakukan dengan kecepatan tinggi. (Muchtar, 1992: 64)

Oleh karena itu permainan sepakbola merupakan permainan beregu yang menekankan pentingnya kerjasama regu (team work) maka kelihatan seolah olah tehnik dasar tersebut tidak atau kurang nampak, misalnya suatu tim yang memperagakan permainan sekali sentuh (one touch play) dengan tempo tinggi.

Disamping teknik-teknik dasar tersebut di atas, terdapat beberapa faktor lain yang perlu diperhatikan dalam permainan sepakbola yaitu taktik, fisik, dan mental. Menurut Muchtar (1992: 79), taktik atau strategi dalam sepakbola adalah cara penempatan/posisi setiap pemain, ruang gerak serta pembagian tugas dari setiap pemain, baik pada saat menyerang maupun bertahan.

Taktik yang dipakai oleh sebuah tim selalu berubah, tergantung dari kondisi yang terjadi selama permainan berlangsung. Pada intinya ada dua taktik yang digunakan yaitu taktik penyerangan dan taktik pertahanan. Dari beberapa pendapat di atas dikatakan bahwa keterampilan sepakbola adalah suatu kecakapan untuk melakukan gerakan-gerakan dalam sepakbola yang terdiri dari kombinasi tehnik dan fisik serta ditunjang taktik dan motivasi melakukan gerakan. Maka dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa unsur fisik, teknik, taktik dan mental yang harus dimiliki oleh atlet sepakbola. Unsur taktik dan mental juara lebih banyak ditentukan peran seorang pelatih.

Setelah dijelaskan bahwa keterampilan erat kaitannya dengan tingkat kecakapan dan kemahiran khususnya sepakbola, maka perlu ada semacam tes untuk mengukur tingkat keterampilan tersebut. Sehubungan dengan ini, Nurhasan menyebutkan bahwa : tes keterampilan cabang olahraga sepakbola merupakan suatu tes yang akan mengukur keterampilan pada siswa dalam cabang olahraga (Nurhasan, 2005: 3).

Senin, 12 Agustus 2013

Hakekat Mahasiswa


Mahasiswa merupakan suatu kelompok dalam masyarakat yang memperoleh statusnya karena ikatan dengan perguruan tinggi. Mahasiswa juga merupakan calon intelektual atau cendikiawan muda dalam suatu lapisan masyarakat yang sering kali syarat dengan berbagai predikat.
Mahasiswa menurut Knopfemacher adalah merupakan insan-insan calon sarjana yang dalam keterlibatannya dengan perguruan tinggi (yang makin menyatu dengan masyarakat), dididik dan diharapkan menjadi calon-calon intelektual. 
Dalam peraturan pemerintah RI No.60 tahun 1999 mahasiswa diartikan sebagai peserta didik yang terdaftar dan belajar di perguruan tinggi tertentu. Selanjutnya menurut Sarwono (1978) mahasiswa adalah setiap orang yang secara resmi terdaftar untuk mengikuti pelajaran di perguruan tinggi dengan batas usia sekitar 18-30 tahun.

Dari pendapat di atas bisa dijelaskan bahwa mahasiswa adalah status yang disandang oleh seseorang karena hubungannya dengan perguruan tinggi yang diharapkan menjadi calon-calon intelektual dengan mempunyai gerak dan pemikiran yang rasional.

Jumat, 14 Juni 2013

Perawatan Untuk Ikan Koi


  • Ikan koi adalah ikan arus deras. Jadi sebaiknya ada pancuran ataupun hasil air hasil filtrasi yang mengucur untuk meningkatkan kadar oksigen dalam air. Bisa juga memakai aerator (pompa udara untuk menghasilkan gelembung).
  • Ikan koi tidak terlalu tahan suhu dingin, maka usahakan suhu air bisa diantara 24 derajat celcius sampai 28 derajat celcius. Mempertahankan suhu dapat dengan berbagai cara, misalnya kolam yang tidak terlalu sedikit volume airnya sehingga perubahan suhu tidak terlalu ekstrim, atau tambahkan heater (pemanas kolam). Jadi kalau suhu sedang dingin ikan-ikan koi bisa tidur di dekat heater.
  • Koi sangat doyan makan, hanya saja kalau dikasih banyak makan maka harus rajin membersihkan kotorannya yang tidak tersedot filter air, karena kalau terlalu banyak dibiarkan akan menimbulkan amonia dengan kadar tinggi. Kalau koi terlalu gemuk juga tidak baik. Ikan koi biasanya makan sehari 2 kali, pagi dan sore.
  • Kolam harus memiliki filter air. Air yang cocok untuk ikan koi bukan berarti air yang terlihat jernih tapi air yang bersih dari amonia, PH cenderung stabil, tidak mengandung zat-zat berbahaya, misalnya kaporit, dan tidak ada terlalu banyak mikroba atau bekas tumbuhan yang membusuk (lumut mati misalnya) karena akan menimbulkan penyakit jamur.
  • Kolam sebaiknya terkena sinar matahari. Tapi tidak terkena air hujan (jika sedikit saja terkena air hujan masih tidak apa-apa), karena air hujan juga dapat menyebabkan penyakit bagi koi, terutama jika filter air yang digunakan tidak bagus dan air hujan mengandung banyak zat yang tidak bersahabat dengan ikan koi, misalnya air hujan yang turun dari genting yang kotor.
  • Kolam sebaiknya berdinding halus agar tidak melukai koi, jika tidak maka biarkan berlumut agar jika koi menggesek-gesekkan badannya tidak melukai koi.
  • Sebaiknya tidak terlalu banyak ornamen dalam kolam dan tidak terlalu banyak tumbuhan air di dalam kolam. Secukupnya saja agar tidak banyak menimbulkan kotoran tumbuhan yang busuk.
  • Untuk pencegahan penyakit setiap mengganti air tambahkan garam kolam dan obat jamur dengan dosis untuk pencegahan.
  • Untuk mencegah kutu, bisa dengan menggunakan abate secara bertahap (bergantung durasi habisnya abate), gunakan setengah dosis abate agar tidak meracuni ikan, usahakan abate diletakkan di tempat yang tidak bisa dijangkau ikan koi, agar tidak dimakan, misalnya di bagian atas pancuran, atau abate dibungkus kain dan dimasukkan ke kolam.
  • Menguras air kolam juga harus secara bertahap, bergantung pada volume air pada kolam, semakin kecil maka akan semakin sering menguras air. Jika menguras air jangan langsung diganti air, tapi sisakan air lama sebanyak minimal 50%, kecuali jika air bekas pengobatan atau air yang berpenyakit menular bagi ikan. Lalu tambahkan air lagi sebanyak 50%.
  • Membersihkan filter air juga harus secara berkala, bergantung dari besarnya kolam dan kemampuan filter.
  • Membersihkan sisa makanan (pelet) ikan yang tidak dimakan oleh ikan sesegera mungkin (biasanya 5-15 menit tidak dimakan ikan).
  • Sebaiknya ikan koi di dalam kolam tidak terlalu banyak, karena akan membuat penurunan kesehatan koi jika terlalu banyak ikan di dalam kolam.
  • Koi sering melompat, jadi usahakan jarak antara air dan permukaan kolam lumayan tinggi, atau berikan saja tambahan pembatas fiber. Kalau sudah melompat dan jatuh ke tempat yang kasar, maka koi bisa terluka dan mati, kalaupun hidup maka dapat menyebabkan koi terserang penyakit, jadi setelah jatuh ke tempat yang kasar.

Jumat, 31 Mei 2013

Penghitungan Energi Atlet

Energi diperlukan manusia untuk bergerak atau melakukan kinerja fisik dan juga menggerakkan proses-proses dalam tubuh yang diperoleh dari metabolisme bahan makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Bagi atlet, kebutuhan energi sangat penting untuk menunjang prestasi dan mempertahankan prestasinya. Berikut ini langkah-langkah untuk menghitung energi atlet:

Menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT) untuk mengetahui status gizi atlet. Penghitungan ini untuk melihat keadaan atlet sesuai dengan kategori untuk pemberian gizi atlet. apabila keadaan atlet kurus, maka pemberian asupan gizi diperbanyak, dan sebaliknya. Dan apabila atlet dalam keadaan normal, maka saran untuk pemberian gizi diperuntukkan guna mempertahankan keadaan atlet.

BMR merupakan energi minimal yang diperlukan untuk mempertahankan proses-proses hidup yang pokok. Penghitungan BMR menggunakan Harris Benedict’s Formula, yaitu:
–Laki: 660 + (13,7xBB) + (1,5xTB) – (6,8xUmur) 
–Wanita: 660 + (9,6xBB) + (1,7xTB) – (4,7xUmur)

SDA merupakan penggunaan energi sebagai akibat dari makanan itu sendiri, yaitu pencernaan, absorbsi, dan transportasi zat gizi . Diukur berdasarkan 10% dari besarnya BMR







Kamis, 14 Maret 2013

Gizi dan Zat Gizi


Nutrisi atau gizi adalah substansi organik yang dibutuhkan organisme untuk fungsi normal dari sistem tubuh, pertumbuhan, pemeliharaan kesehatan. Substansi organik merupakan bagian inti/kandungan dari sebuah organisme seperti karbohidrat dalam nasi, lemak dalam hewan, protein dalam telur, vitamin dalam buah, mineral dalam air. Gizi sendiri berasal dari bahasa arab “Ghiza” yang artinya makanan. Jadi dengan beberapa pengertian tersebut maka Gizi dapat diartikan bahwa unsur yang terkandung dalam makhluk hidup yang dapat dikonsumsi manusia dalam bentuk makanan untuk kelangsungan organisme melakukan fungsi normal dari sistem tubuh, pertumbuhan, dan pemeliharaan kesehatan.

Zat gizi atau yang sering disebut Nutrients merupakan ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya seperti menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur proses-proses kehidupan. Zat gizi yang terkandung dalam makanan sangat beragam dan memungkinkan jumlah dan kandungan zat gizi akan berbeda. Maka anjuran para ahli untuk memakan makanan yang beragam dan tidak over untuk mengkonsumsi makanan tersebut.

Zat gizi secara umum terbagi menjadi 2 macam, yaitu Makro Nutrients dan Mikro Mutrients. Makro nutrients merupakan zat gizi yang banyak diasup/dibutuhkan oleh tubuh, salah satu fungsinya untuk membentuk energi. Markro nutrients terdiri dari karbohidrat, protein, dan lemak. Sedangkan mikro nutrients adalah zat gizi yang sedikit diasup/dibutuhkan oleh tubuh. Mikro nutrients terdiri dari vitamin dan mineral (+ air).

Menurut sumber nya, zat gizi terbagi menjadi 2 macam yaitu zat gizi hewani dan nabati. Zat gizi hewani merupakan zat gizi yang berasal dari hewan, seperti protein dalam daging. Sedangkan zat gizi nabati adalah zat gizi yang berasal dari tumbuhan, seperti protein dalam tempe.

Secara garis besarnya, zat gizi mempunyai 3 fungsi, yaitu
  1. Memberi energi. Zat gizi yang dapat membentuk energi adalah karbohidrat, lemak, dan protein. Karbohidrat menghasilkan 4 kalori, lemak menghasilkan 9 kalori, dan protein menghasilkan 4 kalori. 
  2. Untuk pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh. Zat gizi yang dominan untuk pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh adalah protein, mineral, dan air. 
  3. Mengatur proses tubuh. Dalam tubuh manusia perlu ada pengaturan meabolisme agar tubuh tetap seimbang. Zat gizi yang berperan dalam fungsi ini adalah protein, vitamin, mineral dan air. 

Minggu, 10 Februari 2013

Kopi Luwak





Kopi luwak merupakan seduhan kopi yang dihasilkan dari biji kopi arabika yang terdapat di kotoran luwak/musang (paradoxurus hermaphroditus). Hewan luwak memiliki kemampuan untuk memilih makanan yang matang dan bermutu baik. Kengan kemampuannya itu luwak akan memilih kopi yang bermutu baik dan matang. Luwak hanya akan makan daging dari kopi dan biji kopi yang terlindung kulit keras akan dikeluarkan beserta kotoran luwak. Luwak tidak dapat mencerna biji kopi karena luwak memiliki sistem pencernaan yang sederhana. Dari insting luwak tersebut maka biji kopi yang akan diolah jadi minuman kopi sering diburu petani.

Kopi luwak sudah populer pada jaman kolonial belanda. Belanda menanam kopi arabika yang mereka bawa dari yaman ke jawa dan sumatra. Belanda melarang petani kopi (pribumi) mengkonsumsi kopi hasil perkebunannya. Para petani yang menginginkan kenikmatan kopi akhirnya mengmbil biji kopi yang tercecer. Pada perkembangannya petani kopi menemukan biji kopi yang berasal dari kotoran luwak. Petani menemukan ada luwak yang suka makan kopi tetapi hanya daging buahnya, biji kopinya tidak tercerna dan dibuang beserta kotorannya. Petani menemukan biji kopi dikotoran luwak yang kemudian dicuci dan diolah dengan peralatan yang sederhana. Kenikmatan kopi luwak akhirnya terdengar oleh kolonial belanda dan kahirnya kopi luwak ini menjadi kegemaran orang belanda. Karena kenikmatan, kelangkaan, dan pengelolaan yang sederhana maka kopi luwak ini menjadi kopi termahal pada jaman kolonial belanda. Hingga pada saat ini kopi luwak masih dianggap kopi yang paling mahal di dunia.

Pada jaman sekarang, kopi luwak menjadi salah satu kopi favorit. Di jerman, kopi luwak merupakan kopi yang paling diminati oleh pecenta kopi. Kopi indonesia disukai di jerman, karena mempunyai kekhasan cita rasa tersendiri dibandingkan dengan  kopi-kopi  dari negara lain, ujar konsul jenderal ri di hamburg teuku darmawan dalam acara indonesian coffee day di cafe die rosterei, monckebergstr, di kawasan perbelanjaan utama kota hamburg.

Perbedaan kopi luwak asli dengan kopi biasa dapat di lihat langsung, biasanya kopi luwak asli banyak bercak hitam seperti lendir mengering pada kulit tanduk, sedangkan kopi biasa atau kopi di makan kelelawar tidak terdapat warna apa-apa, melainkan warna asli kulit tanduk kopi, sedangkan perbedaan kopi luwak asli dengan kopi biasa yang sudah berupa biji kopi dapat di kenali ciri-cirinya biasanya kopi luwak asli berwarna kekuning-kuningan serta kulit arinya lebih mudah lepas di bandingkan dengan kopi biasa.

Pengelolahan kopi luwak untuk menghasilkan citarasa yang memuaskan yaitu:

  1. Biji kopi luwak dicuci agar kotoran luwak tidak iku terkonsumsi
  2. Biji kopi dijemur panas matahari samapi kadar air 20%-25%
  3. Pemisahan biji kopi luwak dari kulit ari menggunakan mesin tumbuk untuk menjadi kopi luwak yang siap digoreng/panggang
  4. Penjemuran kembali biji kopi sampai kadar air 16%
  5. Pencucian biji kopi luwak sampai bersih
  6. Penjemuran kembali sampai kadar air 10%-11%
  7. Kemudian biji kopi luwak disangrai
  8. Biji kopi dibubukan untuk menghasilkan kopi luwak yag siap untuk diseduh.


Selain rasa yang nikmat, kopi luwak juga mempunyai khasiat yang sangat berguna bagi tubuh penikmat kopi. Khasiat kopi luwak adalah:
1. Mencegah penyakit saraf
  • Peminum kopi berkafein cenderung tidak akan mengembangkan penyakit alzheimer dan parkinson.
  • Kandungan antioksidan di dalam kopi akan mencegah kerusakan sel yang dihubungkan dengan parkinson.
  • Sedangkan kafein akan menghambat peradangan di dalam otak, yang kerap dikaitkan dengan alzheimer.
2. Melindungi gigi
  • Kopi yang mengandung kaein memiliki kemampuan anti – bakteri dan anti – lengket sehingga dapat menjaga bakteri penyebab lubang menggerogoti lapisan gigi.
  • Minum kopi secangkir setiap hari terbukti dapat mencegah risiko kanker mulut hingga separuhnya.
  • Senyawa yang ditemukan di dalam kopi juga dapat membatasi pertumbuhan sel kanker dan kerusakan dna.
3. Menurunkan risiko kanker payudara
  • Menjelang masa menopause, wanita yang mengonsumsi 4 (empat) cangkir kopi sehari mengalami penurunan risiko kanker payudara sebesar 38 persen, demikian menurut sebuah studi yang dipublikasikan di the journal of nutrition.
  • Kopi melepaskan phytoestrogen dan flavonoid yang dapat menahan pertumbuhan tumor.
  • Namun konsumsi kurang dari 4 (empat) cangkir tidak akan mendapatkan manfaat ini.
  • Mencegah batu empedu. Batu empedu tumbuh ketika lendir di dalam kantong empedu memerangkap kristal – kristal kolesterol.
  • Xanthine, yang ditemukan di dalam kafein, akan mengurangi lendir dan risiko penyimpanannya.
  • Dua cangkir kopi atau lebih setiap hari akan membantu proses ini.
4. Melindungi kulit
  • Konsumsi 2 – 5 cangkir kopi setiap hari dapat membantu menurunkan risiko kanker kulit nonmelanoma hingga 17 persen.
  • Kafein dapat memacu kulit untuk membunuh sel – sel prakanker, dan juga menghentikan pertumbuhan tumor.
5. Mencegah diabetes
  • Orang yang mengonsumsi 3 – 4 cangkir kopi reguler atau kopi decaf (dengan kadar kafein yang dikurangi) akan menurunkan risiko mengembangkan diabetes tipe ii hingga 30 persen.
  • Asam klorogenik dapat membantu mencegah resistensi insulin, yang merupakan pertanda adanya penyakit ini.

Minggu, 03 Februari 2013

Pengertian PTK (Penelitian Tindakan Kelas)


Penelitian merupakan tindakan yang dilakukan untuk menyelesaikan atau memecahkan masalah dengan menggunakan metode ilmiah. Metode ilmiah adalah suatu prosedur yang sistematis dan obyektif untuk mendapatkan pengetahuan atau pemecahan masalah. Jadi penelitian itu diawali dari sebuah masalah yang akan diselesaikan. 

Penelitian tindakan kelas merupakan hasil dari perkembangan dari peneltian tindakan (action research). Penelitian tindakan adalah penelitian yang diprakarsai untuk memecahkan masalah langsung atau pemecahan proses reflektif masalah progresif yang dipimpin oleh individu dengan bantuan orang lain dalam tim atau sebagai bagian dari suatu "komunitas praktek" untuk memperbaiki cara mereka mengatasi masalah dan memecahkan masalah. Ini kadang-kadang disebut riset aksi partisipatif. Penelitian tindakan melibatkan proses aktif berpartisipasi dalam situasi perubahan organisasi selama melakukan penelitian. Penelitian tindakan juga dapat dilakukan oleh organisasi yang lebih besar atau lembaga, dibantu atau dipandu oleh peneliti profesional, dengan tujuan untuk meningkatkan praktik strategi dan pengetahuan tentang lingkungan di mana mereka berlatih. 

Penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan penelitian yang diprakarsai untuk memecahkan masalah dalam proses belajar mengajar di kelas secara langsung. Dengan kata lain, PTK dibuat dengan tujuan untuk meningkatkan dan memperbaiki mutu proses belajar mengajar di kelas serta membantu memberdayakan guru dalam memecahkan masalah pembelajaran di sekolah. Dalam penyusunan PTK syarat yang harus dilakukan adalah:
  1. Harus tertuju atau mengenai hal-hal yang terjadi di dalam pembelajaran dan diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. 
  2. Menuntut dilakukannya pencermatan secara terus menerus, ohjektif, dan sistematis. Hasil pencermatan ini digunakan sebagai bahan untuk menentukan tindak lanjut yang harus diambil segera oleh peneliti.
  3. Dilakukan sekurang-kurangnya dalam dua siklus tindakan yang berurutan. 
  4. Terjadi secara wajar, tidak mengubah aturan yang sudah ditentukan, dalam arti tidak mengubah jadwal yang berlaku. 
  5. Harus betul-betul disadari oleh pemberi maupun pelakunya, sehingga pihak-pihak yang bersangkutan dapat mengemukakan kembali apa yang dilakukan dibandingkan dengan rencana yang sudah dibuat sebelumnya. 
  6. Harus benar-benar menunjukkan adanya tindakan yang dilakukan oleh sasaran tindakan, yaitu siswa yang sedang belajar. 
Setiap penelitian tentu ada subyek dan obyek penelitian. Dalam PTK, yang menjadi obyek penelitian adalah sesuatu yang aktif dan dapat dikenai aktivitas, bukan objek yang sedang diam dan tanpa gerak. Unsur-unsur yang dapat dijadikan sasaran/objek PTK tersebut adalah : (1) siswa, (2) guru, (3) materi pelajaran, (4) peralatan atau sarana pendidikan, meliputi peralatan, baik yang dimiliki oleh siswa secara perseorangan, peralatan yang disediakan oleh sekolah, ataupun peralatan yang disediakan dan digunakan di kelas dan di laboratorium, (5) hasil pembelajaran, (6) lingkungan, dan (7) pengelolaan, hal yang termasuk dalam kegiatan pengelolaan misalnya cara dan waktu mengelompokkan siswa ketika guru memberikan tugas, pengaturan jadwal, pengaturan tempat duduk siswa, penempatan papan tulis, penataan peralatan milik siswa, dan lain-lain. 

Penyusunan PTK harus mengacu pada prinsip-prinsip PTK. Hopkins mengemukakan ada enam prinsip yang harus diperhatikan dalam PTK, yaitu: 
  1. Metode PTK yang diterapkan seyogyanya tidak mengganggu komitmen sebagai pengajar; 
  2. Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan karena dilakukan sesuai dengan jadwal pelajaran; 
  3. Metodologi yang digunakan harus reliable; 
  4. Masalah program yang diusahakan adalah masalah yang merisaukankan, dan didasarkan pada tanggung jawab professional; 
  5. Dalam menyelenggarakan PTK, guru harus selalu bersikap konsisten dan memiliki kepedulian tinggi terhadap proses dan prosedur yang berkaitan dengan pekerjaannya; 
  6. PTK tidak dilakukan sebatas dalam konteks kelas atau mata pelajaran tertentu melainkan dengan perspektif misi sekolah secara keseluruhan. 

Agar PTK mencapai hasil yang optimal dan sesuai dengan harapan, maka penyusunan PTK harus melalui tahap-tahap penyusunan PTK. Tahap-tahap penyusunan PTK adalah sebagai berikut: 
  1. Menyusun rancangan tindakan (planning/perencanaan), dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan akan dilakukan. Penelitian tindakan yang ideal sebetulnya dilakukan secara berpasangan antara pihak yang melakukan tindakn dan pihak yang mengamati proses yang dijalankan. 
  2. Pelaksanaan Tindakan (acting), tahap ini merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan tindakan di kelas. 
  3. Pengamatan (observing), yaitu kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat. Dalam tahap ini, guru pelaksana mencatat sedikit demi sedikit apa yang terjadi agar memperoleh data yang akurat untuk perbaikan siklus berikutnya. 
  4. Refleksi (reflecting), merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Dalam tahap ini, guru berusaha untuk menemukan hal-hal yang sudah dirasakan memuaskan hati karena sudah sesuai dengan rancangan dan secar cermat mengenali hal-hal yang masih perlu diperbaiki. 
Jika penelitian tindakan dilakukan melalui beberapa siklus, maka dalam refleksi terakhir, peneliti menyampaikan rencana yang disarankan kepada peneliti lain apabila dia menghentikan kegiatannya, atau kepada diri sendiri apabila akan melanjutkan dalam kesempatan lain. 

Apabila PTK dilakukan sesuai dengan konsep dan dasar-dasar penelitian yang sebenarnya, maka hasil yang akan didapatkan pasti akan optimal. Hasil yang pasti akan dicapai adalah pemecahan masalah yang terjadi di kelas dalam proses belajar mengajar (PBM).