Tampilkan postingan dengan label Penelitian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penelitian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 November 2015

Konsep Evaluasi Program

Evaluasi program mempunyai makna yang berhubungan pada aplikasi skala nilai terhadap hasil kebijakan atau program. Gambaran sederhana evaluasi adalah proses pencapaian tujuan dari pelaksanaan program yang dijalankan. Dengan ini maka evaluasi berkenaan dengan pengambilan keputusan dan menekankan bagi pentingnya cara untuk mendapatkan informasi yang berkenaan dengan pencapaian tujuan dari suatu program. Pengumpulan data yang diperoleh melalui evaluasi dibuat untuk menambah efektifitas dari pelaksanaan program.
Paton menjelaskan evaluasi program adalah proses pengambilan data yang sistematis untuk melakukan penilaian dan keputusan terhadap suatu program[1]. Berdasarkan pendapat tersebut maka evaluasi program adalah sebuah proses, dimana proses harus sistematis dalam pengambilan datanya. Evaluasi digunakan untuk pengambilan keputusan atau peniaian. Jadi evaluasi program mempunyai tiga hal pokok yang pentting, yaitu pengambilan data, penilaian, dan pengambilan keputusan.
Hal penting dalam pengambilan data maksudnya bahwa evaluasi harus dilakukan secara sistematis dengan desain evaluasi[2]. Pengambilan data harus mempunyai perencanaan agar diperoleh data yang benar. Pengambilan data sistematis berarti bahea pengambilan data harus disesuaikan dengan tahapan-tahapan dan prosedur yang telah ditetapkan dalam proses perencanaan evaluasi. Hali ini akan memberikan gambaran yang benar mengenai pelaksanaan program. Setelah pengambilan data, kemudian dilanjutkan dengan penilaian.
Penilaian yang dilakukan berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh dan pemberian kriteria terhadap objek-objek[3]. Penilaian dapat dilakukan dengan cara membandingkan hasil pencapaian program dengan tujuan yang telah ditetapkan dalam perencanaan program. Hasil penilaian kemudian dijadikan sebagai dasar untuk menentukan keputusan-keputusan.
Pendapat lain yang memperkuat pendapat di atas adalah pendapat dari Stufflebeam yang menyatakah bahwa “Evaluation is a systematic investigation of the value of a program or other evaluand[4]. Stufflebeam menjelaskan bahwa evaluasi merupakan proses yang sistematis dari nilai sebuah program.
Stufflebeam dalam Muhammad Aziz Ariyanto menyatakan bahwa “evaluating is the process of delineating, and providing descriptive and judgemental information about the worth and merit of some object’s goal, design, implementation, and impact in order to guide decision making , serve needs for accountability, and promote understanding of the involved phenomena[5]. Pendapat tersebut berati bahwa evaluasi adalah suatu proses untuk mendapatkan informasi guna dijadikan pertimbangan untuk menentukan harga dan jasa (worth and merit) dari tujuan yang dicapai, desain, implementasi, dan dampak untk membantu membuat keputusan, membantu pertanggungjawaban dan meningkatkan pemahaman tentang fenomena. Secara sederhana evaluasi adalah penyediaan informasi yang dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk mngambil keputusan.
Upaya untuk melakukan kegiatan harus memperhatikan empat prinsip dasar. seperti yang disarankan oleh Daniel L. Stufflebeam yaitu utility, feasibility, propriety, dan accuracy[6]. Utility dimaksudkan agar evaluasi itu bersifat informatif, feasibility dimaksudkan agar desain evaluasi diatur sesuai dengan bidang yang akan dievaluasi dan dengan biaya yang efektif. propriety dimaksudkan agar evaluasi dilakukan secara legal dan menjunjung etika. Accuracy dimaksudkan agar evaluasi harus akurat dan valid, reliabel, dan merupakan informasi yang menyeluruh.
Berdasarkan beberapa pendapat dari pakar evaluasi program di atas, maka dapat diamil kesimpulan bahwa evaluasi merupakan proses pengambilan data yang dilakukan dengan sistematis atau betahap untuk melakukan penilaian atau pengambiilan keputusan terhadap suatu program dengan memperhatikan prinsip-prinsip evaluasi. Prinsip-prinsip evaluasi program adalah utilitas, kepatuhan, kelayakan, dan akurasi.



[1] Michael Quin Paton. Utilization Facused Evaluation. (Califirnia: Sage Publication, Inc., 2005), h. 23.
[2] Reider Dale dalam Muhammad Aziz Ariyanto. Evaluasi program Manajemen Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Mahasiswa (PPLM) di Jawa Tengah. Disertasi. (Jakarta: PPs. Universitas Negeri Jakarta, 2015), h. 18.
[3] Djaali dan Pudji Mujiono. Pengukuran dalam Bidang Pendidikan. (Jakarta: PT Gramedia, 2008), h. 1.
[4] Daniel L. Stufflebeam dalam Muhammad Aziz Ariyanto, op. cit., h.19.
[5] Ibid., h. 19.
[6] Daniel L. Stufflebeam. “Empowerment Evaluation, Objectivist Evaluation, and Evaluation Standards: Where the Future of Evaluation Should not Go and Where it Needs to Go”. American Journal of Evaluation, Vol 15 (3), Spring 1994, hh.321-338.

Selasa, 21 Januari 2014

Paradigma, Pendekatan, dan Jenis Penelitian


Penelitian adalah upaya pemecahan masalah yang dilakukan dengan metode ilmiah. Jadi tidak akan ada penelitian tanpa adanya masalah. Banyak pakar penelitian mengatakan bahwa "Jika ingin melakukan penelitian, temukan masalah terlebih dahulu. Karena dengan masalah 50% penelitian tersebut telah selesai". Dari pernyataan tersebut dapat diartikan masalah merupakan awal dari penelitian dan hal vital untuk penelitian. Setelah ditemukan masalah, selanjutnya dengan metodologi penelitian, masalah tersebut akan mudah diselesaikan.

Penyelesaian masalah penelitian pada tahap awal ditentukan pradigma dari peneliti. Paradigma merupakan suatu cara pandang, cara memahami, cara menginterpretasi, suatu kerangka berfikir, dasar keyakinan yang memberikan arahan pada tindakan. Dalam penyelesaian masalah, peneliti diharuskan melihat dari sudut pandang yang mampu dilakukan oleh peneliti tersebut.


Paradigma penelitian ada 2 macam, yaitu paradigma positivistik (ilmu didasarkan pada hukum-hukum & prosedur-prosedur yang baku) dan paradigma interpretif (setiap gejala bisa jadi memiliki makna yang berbeda). Paradigma positivistik akan melahirkan pendekatan kuantitatif (data berupa angka atau data diangkakan), sedangkan paradigma interpretif akan melahirkan pendekatan kualitatif (data berupa kata-kata). Sebagai contoh, dalam penelitian tentang manajemen kesuksesan suatu perusahaan, peneliti bisa melihat dari sudut pandang interpretif, dimana data yang didapatkan berupa kata-kata tentang perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawassan di perusahaan tersebut. Apabila peneliti melihat dari sudut pandang positvistik, maka peneliti akan mendapatkan data dengan mengambil nilai berupa angka (mengkuantitatifkan data) dari data tentang perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawassan di perusahaan tersebut.

Dari paradigma penelitian tersebut akan melahirkan pendekatan penelitian dimana pendekatan tersebut dibagi 2, yaitu pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif terbagi menjadi 2 jenis penelitian yaitu penelitian eksperimen dan penelitian non-eksperimen. Penelitian eksperimen merupakan penelitian yang dilakukan secara ketat untuk mengetahui hubungan sebab akibat antar variabel dimana peneliti akan memberikan treatment (perlakuan). Sedangkan penelitian non-eksperimen adalah penelitian dimana peneliti tidak mempunyai kesempatan untuk memberikan perlakuan (treatment).


Dalam penelitian eksperimen, ada banyak jenis penelitian, diantaranya adalah penelitian eksperimen murni, penelitian eksperimen semu, dan penelitian tindak kaji (action research). Peneltian eksperimen murni adalah penelitian yang dicirikan 4 hal, yaitu adanya perlakuan, adanya kelompok kontrol, adanya ukuran keberhasilan, dan random sampling (pengambilan sampel secara acak). Penelitian eksperimen semu merupakan penelitian eksperimen yang tidak dapat memenuhi keempat ciri (di eksperimen murni), dengan kata lain salah satu ciri yang ada di penelitian eksperimen murni tidak dapat dilakukan. Penelitian tindak kaji (action research) adalah penelitian yang proses penelitiannya bersiklus dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran di kelas secara berkelanjutan. Yang dimaksud bersiklus adalah penelitian tidak akan berhenti sampai terjadi perbaikan kualitas (tujuan penelitian tercapai).


Penelitian non-eksperimen merupakan penelitian yang dalam proses penelitiannya tidak ada perlakuan. Penelitian non-eksperimen terbagi menjadi banyak jenis penelitian, akan tetapi yang paling sering dilakukan adalah jenis penelitian deskriptif, jenis penelitian survei, jenis penelitian korelasi, dan jenis penelitian komparasi. Jenis penelitian deskripsi adalah penelitian yang dilakukan untuk menggambarkan gejala, fenomena atau peristiwa. Jenis penelitian survei adalah penelitian yang mengambil sampel dari populasi dengan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data. Jenis penelitian korelasi adalah penelitian yang menghubungkan satu/lebih variabel bebas dengan satu variabel terikat tanpa ada upaya untuk mempengaruhi. Dan jenis penelitian komparasi adalah penelitian yang membandingkan satu kelompok sampel dengan kelompok sampel lainnya berdasarkan variabel/ukuran tertentu.

Dalam pendekatan kualitatif, jenis penelitian yang sering dilakukan adalah penelitian kualitatif, dimana penelitian ini dilakukan untuk memahami suatu fenomena secara mendalam dengan peneliti sebagai instrumen utama. Metode pengumpulan data dengan menggunakan pengamatan (observasi) dan wawancara. Penelitian kualitatif menuntut peneliti sebagai instrumen utama penelitian, hal ini bermakna bahwa peneliti harus cerdas dalam menafsirkan, mengartikan, memaknai dan menginterpretasikan data yang didapatkan menjadi sebuah jawaban penelitian (penyelesaian masalah).

Minggu, 03 Februari 2013

Pengertian PTK (Penelitian Tindakan Kelas)


Penelitian merupakan tindakan yang dilakukan untuk menyelesaikan atau memecahkan masalah dengan menggunakan metode ilmiah. Metode ilmiah adalah suatu prosedur yang sistematis dan obyektif untuk mendapatkan pengetahuan atau pemecahan masalah. Jadi penelitian itu diawali dari sebuah masalah yang akan diselesaikan. 

Penelitian tindakan kelas merupakan hasil dari perkembangan dari peneltian tindakan (action research). Penelitian tindakan adalah penelitian yang diprakarsai untuk memecahkan masalah langsung atau pemecahan proses reflektif masalah progresif yang dipimpin oleh individu dengan bantuan orang lain dalam tim atau sebagai bagian dari suatu "komunitas praktek" untuk memperbaiki cara mereka mengatasi masalah dan memecahkan masalah. Ini kadang-kadang disebut riset aksi partisipatif. Penelitian tindakan melibatkan proses aktif berpartisipasi dalam situasi perubahan organisasi selama melakukan penelitian. Penelitian tindakan juga dapat dilakukan oleh organisasi yang lebih besar atau lembaga, dibantu atau dipandu oleh peneliti profesional, dengan tujuan untuk meningkatkan praktik strategi dan pengetahuan tentang lingkungan di mana mereka berlatih. 

Penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan penelitian yang diprakarsai untuk memecahkan masalah dalam proses belajar mengajar di kelas secara langsung. Dengan kata lain, PTK dibuat dengan tujuan untuk meningkatkan dan memperbaiki mutu proses belajar mengajar di kelas serta membantu memberdayakan guru dalam memecahkan masalah pembelajaran di sekolah. Dalam penyusunan PTK syarat yang harus dilakukan adalah:
  1. Harus tertuju atau mengenai hal-hal yang terjadi di dalam pembelajaran dan diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. 
  2. Menuntut dilakukannya pencermatan secara terus menerus, ohjektif, dan sistematis. Hasil pencermatan ini digunakan sebagai bahan untuk menentukan tindak lanjut yang harus diambil segera oleh peneliti.
  3. Dilakukan sekurang-kurangnya dalam dua siklus tindakan yang berurutan. 
  4. Terjadi secara wajar, tidak mengubah aturan yang sudah ditentukan, dalam arti tidak mengubah jadwal yang berlaku. 
  5. Harus betul-betul disadari oleh pemberi maupun pelakunya, sehingga pihak-pihak yang bersangkutan dapat mengemukakan kembali apa yang dilakukan dibandingkan dengan rencana yang sudah dibuat sebelumnya. 
  6. Harus benar-benar menunjukkan adanya tindakan yang dilakukan oleh sasaran tindakan, yaitu siswa yang sedang belajar. 
Setiap penelitian tentu ada subyek dan obyek penelitian. Dalam PTK, yang menjadi obyek penelitian adalah sesuatu yang aktif dan dapat dikenai aktivitas, bukan objek yang sedang diam dan tanpa gerak. Unsur-unsur yang dapat dijadikan sasaran/objek PTK tersebut adalah : (1) siswa, (2) guru, (3) materi pelajaran, (4) peralatan atau sarana pendidikan, meliputi peralatan, baik yang dimiliki oleh siswa secara perseorangan, peralatan yang disediakan oleh sekolah, ataupun peralatan yang disediakan dan digunakan di kelas dan di laboratorium, (5) hasil pembelajaran, (6) lingkungan, dan (7) pengelolaan, hal yang termasuk dalam kegiatan pengelolaan misalnya cara dan waktu mengelompokkan siswa ketika guru memberikan tugas, pengaturan jadwal, pengaturan tempat duduk siswa, penempatan papan tulis, penataan peralatan milik siswa, dan lain-lain. 

Penyusunan PTK harus mengacu pada prinsip-prinsip PTK. Hopkins mengemukakan ada enam prinsip yang harus diperhatikan dalam PTK, yaitu: 
  1. Metode PTK yang diterapkan seyogyanya tidak mengganggu komitmen sebagai pengajar; 
  2. Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan karena dilakukan sesuai dengan jadwal pelajaran; 
  3. Metodologi yang digunakan harus reliable; 
  4. Masalah program yang diusahakan adalah masalah yang merisaukankan, dan didasarkan pada tanggung jawab professional; 
  5. Dalam menyelenggarakan PTK, guru harus selalu bersikap konsisten dan memiliki kepedulian tinggi terhadap proses dan prosedur yang berkaitan dengan pekerjaannya; 
  6. PTK tidak dilakukan sebatas dalam konteks kelas atau mata pelajaran tertentu melainkan dengan perspektif misi sekolah secara keseluruhan. 

Agar PTK mencapai hasil yang optimal dan sesuai dengan harapan, maka penyusunan PTK harus melalui tahap-tahap penyusunan PTK. Tahap-tahap penyusunan PTK adalah sebagai berikut: 
  1. Menyusun rancangan tindakan (planning/perencanaan), dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan akan dilakukan. Penelitian tindakan yang ideal sebetulnya dilakukan secara berpasangan antara pihak yang melakukan tindakn dan pihak yang mengamati proses yang dijalankan. 
  2. Pelaksanaan Tindakan (acting), tahap ini merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan tindakan di kelas. 
  3. Pengamatan (observing), yaitu kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat. Dalam tahap ini, guru pelaksana mencatat sedikit demi sedikit apa yang terjadi agar memperoleh data yang akurat untuk perbaikan siklus berikutnya. 
  4. Refleksi (reflecting), merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Dalam tahap ini, guru berusaha untuk menemukan hal-hal yang sudah dirasakan memuaskan hati karena sudah sesuai dengan rancangan dan secar cermat mengenali hal-hal yang masih perlu diperbaiki. 
Jika penelitian tindakan dilakukan melalui beberapa siklus, maka dalam refleksi terakhir, peneliti menyampaikan rencana yang disarankan kepada peneliti lain apabila dia menghentikan kegiatannya, atau kepada diri sendiri apabila akan melanjutkan dalam kesempatan lain. 

Apabila PTK dilakukan sesuai dengan konsep dan dasar-dasar penelitian yang sebenarnya, maka hasil yang akan didapatkan pasti akan optimal. Hasil yang pasti akan dicapai adalah pemecahan masalah yang terjadi di kelas dalam proses belajar mengajar (PBM).

Kamis, 27 Desember 2012

Pengaruh Kekuatan Otot Tungkai dan Konsentrasi Terhadap Ketepatan Tembakan (shooting) Sepakbola



Seorang pemain sepakbola yang baik harus dapat memenuhi syarat, baik sebagai individu maupun sebagai anggota tim kesebelasan, artinya sebagai individu ia harus memiliki kemampuan fisik dan tehnik yang sempurna, sedangkan sebagai anggota kesebelasan dengan kemampuannya ia harus dapat bekerjasama dengan pemain  lain guna membentuk suatu tim yang tangguh. Untuk menjadi seorang pemain sepakbola yang baik, harus dapat menguasai tehnik menendang (shooting) dengan baik, karena ditinjau dari tujuan utama permainan sepakbola adalah mencetak gol ke gawang lawan sebanyak-banyaknya dan menjaga gawangnya agar tidak kebobolan. Untuk dapat menendang bola (shooting) dengan baik diperlukan kekuatan otot tungkai yang kuat dan konsentrasi yang baik. Dengan kekuatan otot tungkai yang kuat maka tendangan yang dihasilkan akan semakin keras dan tepat. Ketepatan tendangan dapat tercapai apabila seorang pemain sepakbola mempunyai konsentrasi yang baik.
Rumusan masalah penelitian ini 1) bagaimanakah hubungan antara pengaruh kekuatan otot tungkai terhadap ketepatan menembak (shooting); 2) bagaimanakah hubungan antara pengaruh konsentrasi terhadap ketepatan menembak (shooting); 3) bagaimanakah hubungan antara pengaruh kekuatan otot tungkai dan konsentrasi terhadap ketepatan menembak (shooting). Tujuan dari penelitian ini adalah 1) mencari hubungan antara pengaruh kekuatan otot tungkai terhadap ketepatan menembak (shooting); 2) mencari hubungan antara pengaruh konsentrasi terhadap ketepatan menembak (shooting); 3) mencari hubungan antara pengaruh kekuatan otot tungkai dan konsentrasi terhadap ketepatan menembak (shooting). Sasaran penelitian ini adalah siswa SSB Petrokimia Gresik.
Metode dalam analisis ini menggunakan metode statistik deskriptif kuantitatif. Sedangkan proses pengambilan data dilakukan dengan melakukan tes kekuatan otot tungkai yang diukur dengan menggunakan alat Leg Dynamometer, tes konsentarasi yang diukur dengan menggunakan Grid Concentration Exercise, dan tes menembak bola ke gawang (shooting).
Rata-rata kekuatan otot tungkai siswa SSB Petrokimia kelompok usia 14-16 tahun sebesar 105,065 kg dengan simpangan baku sebesar 24,985. Rata-rata tingkat konsentrasi siswa SSB Petrokimia Gresik kelompok usia 14-16 tahun sebesar 9,871 dengan simpangan baku sebesar 3,538. Rata-rata kemampuan menembak bola ke gawang (shooting) siswa SSB Petrokimia Gresik sebesar 62,807 dengan simpangan baku sebesar 4,199.
Besarnya hubungan kekuatan otot tungkai (X1) terhadap kemampuan menembak bola ke gawang (shooting) (Y) sebesar 0,430 atau 18,49% dan signifikan 0,016 atau kurang dari α 0,05 sesuai dengan kriteria dapat dikatakan bahwa kekuatan otot tungkai (X1) berpengaruh positif secara individual terhadap kemampuan menembak bola ke gawang (shooting) (Y) siswa SSB Petrokimia Gresik kelompok usia 14-16 tahun adalah signifikan. Besarnya hubungan konsentrasi (X2) terhadap kemampuan menembak bola ke gawang (shooting) (Y) sebesar 0,732 atau 53,58% dan signifikan 0,000 atau kurang dari α 0,05 sesuai dengan kriteria dapat dikatakan bahwa konsentrasi (X2) berpengaruh positif secara individual terhadap kemampuan menembak bola ke gawang (shooting) (Y) siswa SSB Petrokimia Gresik kelompok usia 14-16 tahun adalah signifikan.
Besarnya hubungan variabel kekuatan otot tungkai (X1) dan konsentrasi (X2) secara bersama-sama terhadap kemampuan menembak bola ke gawang (shooting) (Y) adalah sebesar 0,577 atau 60,5% harga F.hitung (21,48) > F.tabel (3,33) sesuai dengan kriteria dapat dikatakan bahwa besarnya hubungan antara kekuatan otot tungkai (X1) dan konsentrasi (X2) secara bersama-sama terhadap kemampuan menembak bola ke gawang (shooting) (Y) siswa SSB Petrokimia Gresik kelompok usia 14-16 tahun adalah signifikan.

Senin, 17 Desember 2012

Modifikasi Pliometrik Depth Jump terhadap Power Explosive



Salah satu komponen fisik yang berperan vital dalam olahraga seperti bolabasket dan bolavoli adalah daya ledak otot tungkai. Maka daripada itu perlu ada pelatihan yang dikhususkan pada daya ledak otot tungkai. Pliometrik depth jump merupakan pelatihan yang menggunakan box setinggi 20-80 cm dan menggunakan beban sendiri untuk meningkatkan daya ledak otot tungkai yang ditunjukkan dalam vertical jump oleh pemain bolabasket dan bolavoli. Untuk menghasilkan daya ledak yang lebih besar, maka perlu ada modifikasi dengan memberikan tekanan yang lebih pada otot-otot yang terlibat. Modifikasi tersebut adalah dengan menambahkan tinggi box menjadi 90cm, 100cm, dan 110cm.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh ketiga modifikasi pliometrik depth jump dan membandingkan pengaruh ketiga modifikasi pliometrik depth jump tersebut. Jenis penelitian ini adalah eksperimen dengan subjek penelitian adalah peserta ekstrakurikuler bolabasket berjumlah 18 siswa dan peserta ekstrakurikuler bolavoli berjumlah 22 siswa. 40 subjek penelitian kemudian dibagi menjadi 4 kelompok (kelompok depth jump box 90, depth jump box 100, depth jump box 110, dan kontrol). Dilakukan tes dan pengukuran untuk mengetahui daya ledak otot tungkai tiap siswa sebelum dan sesudah pemberian treatment. Analisis data dengan menggunakan Uji-t dan Anava yang diteruskan ke penghitungan Scheffe.
Hasil dari penelitian ini adalah modifikasi pliometrik depth jump box 90 dapat meningkatkan daya ledak otot tungkai sebesar 6,06% dengan nilai =12,710 (p=0,05). Modifikasi pliometrik depth jump box 100 dapat meningkatkan daya ledak otot tungkai sebesar 8,41% dengan nilai =16,293 (p=0,05). Modifikasi pliometrik depth jump box 110 dapat meningkatkan daya ledak otot tungkai sebesar 10,11% dengan nilai =14,392 (p=0,05). Depth jump box 110 mempunyai pengaruh paling besar terhadap daya ledak otot tungkai dibandingkan dengan modifikasi depth jump box 90 dan depth jump box 100.